Hari Kebangkitan Nasional dirayakan pada tanggal 20 Mei untuk mengenang berdirinya organisasi Budi Utomo pada tahun 1908. Budi Utomo adalah organisasi pertama yang muncul selama periode pergerakan nasional di Indonesia. Meskipun tidak bersifat politik, Budi Utomo berperan penting dalam membangkitkan semangat nasionalisme di kalangan bangsa Indonesia.


Organisasi Budi Utomo didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA pada tanggal 20 Mei 1908 di Jakarta. Dr. Wahidin Soedirohusodo, seorang alumni STOVIA, menjadi sumber inspirasi bagi pendiri Budi Utomo. Organisasi ini bertujuan untuk memajukan bidang sosial, ekonomi, dan kebudayaan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi.


Budi Utomo menjadi momentum penting dalam pergerakan nasional karena memperjuangkan pemikiran yang lebih nasionalis daripada kedaerahan. Organisasi ini membantu mengubah bentuk perjuangan dari perjuangan lokal menjadi perjuangan yang lebih luas untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Meskipun tidak secara langsung terlibat dalam politik, pemikiran yang muncul dari anggota Budi Utomo mengilhami semangat untuk memperjuangkan nasionalisme dan melawan penjajahan kolonial.


Keberadaan Budi Utomo juga memengaruhi lahirnya organisasi-organisasi pergerakan lainnya seperti Sarekat Islam, Perhimpunan Indonesia, Indische Partij, Muhammadiyah, dan banyak lagi. Meskipun memiliki ideologi yang berbeda, organisasi-organisasi ini memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pribumi dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


Perayaan Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei menjadi momen untuk mengenang dan menghargai perjuangan para pendiri Budi Utomo serta semua tokoh dan pahlawan nasional yang telah berjuang untuk kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Ini juga menjadi kesempatan untuk memperkuat semangat persatuan, meningkatkan kesadaran sejarah, mendorong semangat kebangsaan, dan terus menyuburkan rasa cinta tanah air bagi seluruh masyarakat Indonesia.


Dalam kesempatan lain Ketua MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah, Eko Setyaningsih, S.Pd., M.Si menyampaikan semoga dengan peringatan Hari Kebangkitan Nasional ini menjadi momentum semangat untuk bangkit bagi MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah. Menjadi lebih baik dari sebelumnya yang sudah baik.


Untuk menyemarakkan peringatan Hari Kebangkitan Nasional tahun 2023 ini, yuk lengkapi profil atau status kita dengan twibbon berikut: https://www.twibbonize.com/harkitnas-biosma




Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan Workshop dengan tema Pembelajaran Biologi yang Berdiferensiasi dan Menyenangkan (GSM) secara luring di SMA Negeri 4 Semarang dan daring melalui zoom meeting, Jumat (12/5/2023). Kegiatan dibuka langsung oleh Sunarto, S.Pd., M.Pd selaku Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Jawa Tengah. 

Di dalam sambutan dan arahannya, Sunarto menyampaikan terimakasih dan selamat kepada komunitas MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah yang telah membuktikan untuk tetap eksis, adaptif tumbuh berkembang dengan membuktikan mampu mengadakan sebuah workshop yang diikuti oleh banyak guru biologi SMA se Jawa Tengah di SMA Negeri 4 Semarang. “Jadilah guru biologi yang 3E (Experiment, Experience dan Expert), ciptakan pembelajaran yang fun atau joyfull learning” ujar Sunarto.

Sementara itu, Eko Setyaningsih, S.Pd., M.Si selaku Ketua MGMP BiMateri workshop disampaikan langsung oleh Tim Leader GSM diantaranya terkait Mindset Change Guru, Coaching for Teacher, dan Sharing Praktik Baik. Materi pertama mengenai Mindset Change Guru yang disampaikan oleh Muhammad Kurniawan, ST. Materi kedua mengenai Coaching for Teacher yang disampaikan oleh Sri Sugianto, S.Pd, M.Si, M.Kom. Materi workshop yang terakhir diisi oleh Moh Ali Sadikin, S.Pd, beliau memaparkan mengenai sharing praktik baik terutama yang bisa dilakukan oleh sekolah dan guru biologi.

Materi workshop disampaikan langsung oleh Tim Leader GSM diantaranya terkait Mindset Change Guru, Coaching for Teacher, dan Sharing Praktik Baik. Materi pertama mengenai Mindset Change Guru yang disampaikan oleh Muhammad Kurniawan, ST. Dalam materinya beliau menyampaikan bahwa guru harus mengubah mindset, dari mindset lama menjadi mindset baru. Beliau juga mengajak guru untuk fokus kepada 10% konten pengetahuan, 95% softskill dan penalaran. 95% softskill dan penalaran terdiri dari 36% penalaran dan kreativitas, 19% Social skill, 18% Skill berempati pada orang lain, serta skill pengambilan keputusan dan pengelolaan sistem, menurutnya hal inilah yang dibutuhkan dunia di masa depan. 

Materi kedua mengenai Coaching for Teacher yang disampaikan oleh Sri Sugianto, S.Pd, M.Si, M.Kom. Menurut Grant, 1999 kegiatan coaching dalam pembelajaran didefinisikan sebagai sebuah proses kolaborasi yang berfokus pada solusi, berorientasi pada hasil dan sistematis, dimana coachee memfasilitasi peningkatan atas performa peserta didik, pengalaman hidup, pembelajaran diri dan pertumbuhan pribadi dari coachee. Pada materi kali ini para peserta diajak untuk menjadi guru sebagai peran utama, guru hadir mendengarkan dengan hati, guru memandu dengan pertanyaan berdaya bukan menasehati, pembelajaran yang dilakukan berorientasi pada masa kini dan masa depan, serta menjadikan pembelajaran sebagai alat untuk bertumbuh dan berkembang.

Kegiatan workshop yang terakhir diisi oleh Moh Ali Sadikin, S.Pd, beliau memaparkan mengenai sharing praktik baik. Sharing praktik baik ini bertujuan untuk memberikan semangat dan motivasi kepada guru-guru lain agar mau berubah dan berdampak terhadap dunia Pendidikan masa depan. 

Kegiatan workshop ini mendapatkan antusiasme yang tinggi dari para peserta. Menurut salah satu peserta Budi Triyanto, S.Pd dari SMA Negeri 1 Dukuhwaru Tegal menyampaikan “Saya sangat antusias sekali bisa mengikuti kegiatan workshop bersama bapak ibu guru hebat biologi SMA Provinsi Jawa Tengah, kegiatan kali ini benar-benar membuka pikiran saya untuk mengubah cara mengajar lama ke cara mengajar baru yang lebih menyenangkan dan bermakna”.


“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” 

(Teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best).

Bob Talbert

Dari kutipan di atas, apa kaitannya dengan proses pembelajaran yang sedang Anda pelajari saat ini? Pentingnya pendidikan yang berpihak pada murid untuk mempersiapkan murid nilai-nilai kebajikan yang berharga untuk bekal mereka di masa depan. Selain matematika sebagai ilmu pengetahuan murid-murid perlu diajarkan tentang olah, karsa, rasa dan cipta sesuai bakat minat, kodrat diri dan kodrat jaman mereka. Guru menuntun murid-murid untuk mempertajam kodrat diri mereka.

Bagaimana nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak pada lingkungan kita? Nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang kita anut dalam suatu pengambilan keputusan dapat memberikan dampak yang luar biasa pada lingkungan kita. 

Bagaimana Anda sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid, dalam pengambilan keputusan Anda? Sebagai seorang pemimpin pembelajaran dapat berkontribusi pada proses pembelajaran murid dalam pengambilan keputusan terutama keputusan yang berpihak pada murid.

Menurut Anda, apakah maksud dari kutipan ini jika dihubungkan dengan proses pembelajaran yang telah Anda alami di modul ini? Jelaskan pendapat Anda.

Education is the art of making man ethical.

Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis.

~ Georg Wilhelm Friedrich Hegel ~

Pendidikan tidak saja berbicara penanaman nilai melalui pembelajaran tetapi juga tetapi juga melalui penerapan etika baik yang diterapkan oleh pendidik sebagai pemimpin pembelajaran di kelas. Modul 3.1 yang memuat materi Paradigma dilema etika dan bujukan moral. Dilema Etika dan Bujukan moral yang berkaitan dengan pengambilan keputusan khususnya dalam kegiatan pembelajaran. Konsep dan definisi dalam modul ini mengarahkan pada wawasan pengambilan keputusan yang secara sistematis dapat dilakukan ketika menghadapi suatu permasalahan yang mengandung unsur dilema. Ketika menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasari yang juga bertentangan seperti nilai-nilai kebajikan universal lainnya seperti, cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan  akan hidup.

Karsa merupakan suatu kekuatan yang tidak terpisahkan dari perilaku manusia.  Karsa ini pun berhubungan dengan nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut oleh seseorang, disadari atau pun tidak. Nilai-nilai atau prinsip-prinsip inilah yang mendasari pemikiran seseorang dalam mengambil suatu keputusan yang mengandung unsur dilema etika.

Setelah melewati tahapan-tahapan pembelajaran sebelumnya, inilah saatnya Anda menarik kesimpulan, berefleksi mengaitkan materi-materi yang sudah dipelajari, baik di dalam modul 3.1. ataupun kaitannya dengan materi di modul lain.

Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin? Ing Ngarso Sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani yang artinya sebagai pendidik posisi di depan memberikan contoh teladan, di tengah memberikan dorongan motivasi dan di belakang mendukung sepenuhnya sesuai dengan bakat, minat dan kodrat anak. Guru bertindak sebagai penuntun melakukan among agar mereka tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya hingga menemukan kemerdekaan dalam belajar yang berdampak pada pengambilan keputusan yang bertanggung jawab.

Dalam proses pengambilan keputusan, selain mengikuti 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan, keterampilan yang telah dipelajari pada modul-modul sebelumnya akan sangat membantu misalnya keterampilan coaching, karena keterampilan ini membekali seorang guru untuk menjadi coach bagi dirinya dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan untuk memprediksi hasil, dan melihat berbagai opsi solusi sehingga dapat mengambil keputusan dengan baik. Selain keterampilan coaching, untuk mengambil keputusan yang bertanggung jawab, diperlukan kompetensi  kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial  (relationship skills). Proses pengambilan keputusan seharusnya juga dilakukan dengan kesadaran penuh (mindful) dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Hal-hal tersebut telah didapatkan di modul 2.2 tentang pembelajaran sosial emosional. 

Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.

Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika? Kemampuan mengelola emosi dengan keterampilan sosial dan emosional dalam pengambilan keputusan yang dewasa dengan memperhatikan aspek 3 prinsip, 4 paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan dapat memberikan keputusan yang sesuai dengan nilai-nilai kebajikan, bertanggungjawab dan berpihak pada murid.

Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik? Contoh Studi Kasus:

1. Rayhan adalah seorang murid kelas 12 yang sangat berbakat dalam bidang seni. Dia juga sopan dan baik hati. Dia selalu membuat orang terkesan dengan karya-karya seni yang dibuatnya. Namun dia kurang memahami dan menguasai pelajaran Matematika. Nilai-nilainya untuk pelajaran Matematika selalu di bawah Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM). Sebelum mengikuti Ujian Akhir SMA dan pengumuman kelulusan SMA, Rayhan sudah diterima di universitas pilihannya di jurusan Seni dengan program beasiswa. Pada hari ujian akhir sekolah pelajaran Matematika, Pak Didi adalah guru pengawas ujiannya. Pak Didi memergoki Rayhan menyontek pada saat ujian akhir sekolah Matematika. Rayhan pun sudah mengakuinya ketika ditanya oleh Pak Didi. Setelah ujian selesai, Pak Didi menghadap kepala sekolah, Ibu Dian. Ibu Dian paham, bila sekolah menindaklanjuti kasus ini sesuai peraturan, Rayhan bisa kehilangan kesempatannya untuk mendapatkan beasiswa di universitas impiannya atau bila ia berbelas kasihan pada Rayhan dan menyimpan kejadian ini rapat-rapat, berarti Ibu Dian tidak mengikuti peraturan sekolah, mungkin Pak Didi akan mempertanyakan prinsip keadilan yang selama ini mereka junjung di sekolah.

2. Pak Doni adalah seorang kepala sekolah yang baru diangkat di SMA Bakti Nusantara. Tahun ajaran ini, sekolah tersebut menerima dana Tanggung jawab Sosial Perusahaan/Corporate Social Responsibility (CSR)  dari sebuah perusahaan minyak yang peduli pada dunia pendidikan. Dana tersebut diberikan pada sekolah untuk membiayai pelatihan guru dalam bidang literasi digital. Setelah acara pelatihan guru selesai, Ibu Rini, bendahara kegiatan mengatakan pada Pak Doni bahwa guru-guru bertanya apakah akan ada acara makan-makan. Bu Rini juga mengatakan masih ada sisa dana CSR tersebut, dan biasanya setiap selesai kegiatan pelatihan, sisa dana digunakan untuk makan-makan para guru di restoran dekat sekolah. Ibu Rini pun sebagai bendahara panitia, sudah terbiasa membuat kwitansi palsu untuk membiayai acara tersebut, atas sepengetahuan kepala sekolah sebelumnya.  Bila Anda menjadi Pak Doni, keputusan apa yang akan Anda ambil?

Situasi pertama adalah situasi dilema etika karena kedua pilihan benar. Bila Anda berada dalam posisi Ibu Dian, Anda dapat mengikuti prinsip keadilan dengan memberi Rayhan konsekuensi sesuai aturan sekolah dengan risiko Rayhan mendapatkan pembatalan beasiswa di universitas yang diimpikannya, atau Anda membuat pengecualian karena kemurahan hati dan kasih sayang, demi masa depan Rayhan, karena terkadang adalah hal yang benar untuk memegang peraturan, tapi terkadang membuat pengecualian demi masa depan murid merupakan tindakan yang benar juga.  Pilihan untuk menuruti peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa hormat terhadap keadilan (atau sama rata).  Pilihan untuk membuat perkecualian dalam peraturan dapat dibuat berdasarkan rasa belas kasihan (kebaikan hati).

Situasi kedua, adalah situasi Bujukan Moral, karena ini adalah situasi dimana seseorang harus membuat keputusan antara benar atau salah. Kepala sekolah paham bahwa sebetulnya dana tersebut tidak boleh digunakan untuk kegiatan semacam itu. Ada pilihan benar dan salah bagi kepala sekolah yaitu, benar dengan menolak permintaan guru-guru untuk makan-makan setelah program pelatihan selesai dan bendahara harus membuat kwitansi palsu, atau salah bila memenuhi permintaan guru-guru untuk makan-makan untuk kebersamaan, tetapi memalsukan dokumen dan memanipulasi laporan keuangan.

Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman. Perlu kita ingat bahwa 9 langkah pengambilan keputusan ini adalah panduan, bukan sebuah metode yang kaku dalam penerapannya. Pengambilan keputusan ini juga merupakan keterampilan yang harus diasah agar semakin baik. Semakin sering kita berlatih menggunakannya, kita akan semakin terampil dalam pengambilan keputusan. Hal yang penting dalam pengambilan keputusan adalah sikap yang bertanggung jawab dan mendasarkan keputusan pada nilai-nilai kebajikan universal.

Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Pengalaman saya selama bekerja pada institusi pendidikan, telah mengalami bahwa dilema etika adalah tantangan berat yang harus dihadapi dari waktu ke waktu. Ketika menghadapi situasi dilema etika, akan ada nilai-nilai kebajikan mendasar yang bertentangan seperti cinta dan kasih sayang, kebenaran, keadilan, kebebasan, persatuan, toleransi, tanggung jawab dan penghargaan akan hidup. Secara umum ada pola, model, atau paradigma yang terjadi pada situasi dilema etika yang bisa dikategorikan seperti di bawah ini: Individu lawan kelompok (individual vs community, Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy). Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty). Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Adakah  kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda? Ada. 

Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda? Pengambilan keputusan yang berpihak pada murid.

Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya? Untuk dapat mengambil sebuah keputusan dengan baik maka keterampilan coaching akan membantu kita sebagai pemimpin pembelajaran dengan pertanyaan- pertanyaan yang efektif dan komunikasi asertif yang baik akan mengarahkan kita ke berbagai opsi dalam pengambilan keputusan. Sehingga dengan keterampilan coaching ini dapat membantu murid dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri. Tidak sebatas pada murid, keterampilan coaching dapat diterapkan pada rekan sejawat atau komunitas praktisi terkait permasalahan yang dialami dalam proses pembelajaran.

Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya? Kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya yaitu kita harus berpedoman pada filosofi Ki Hajar Dewantara, dimana guru menjadi teladan, fasilitator, motivator maupun pembangkit semangat untuk murid-murid kita. Nilai-nilai dan prinsip-prinsip sebagai guru penggerak sangat mempengaruhi dalam pengambilan keputusan, seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Kepiawaian seorang guru dalam menjadi coach bagi guru lain juga sangat mempengaruhi dalam pengambilan suatu keputusan. Di mana kita harus banyak mendengar, kemudian menuntun murid maupun rekan sejawat menemukan solusinya sendiri. Keputusan yang sudah diambil harus dapat dipertanggungjawabkan. Aspek sosial emosional tak kalah pentingnya dalam suatu pengambilan keputusan, dimana dengan keadaan yang tenang, kita bisa berpikir lambat. Dengan demikian, keputusan yang diambil pastilah sudah dipertimbangkan dan dipikirkan dengan matang.

Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan? Keputusan yang diambil kadangkala berbeda dari pilihan yang diberikan. Ada kalanya pilihan alternatif yang merupakan pilihan keputusan ketiga adalah yang terbaik yang merupakan keputusan yang memperhatikan semua aspek yang disebut win-win solution.

Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini? Pernah. Saya belum menerapkan 3 prinsip, 4 paradigma dan 9 langkah pengambilan keputusan tetapi sudah melakukan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab, sesuai dengan nilai-nilai kewajiban dan berpihak pada murid. 

Bagaimana dampak mempelajari konsep  ini buat Anda, perubahan  apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini? Saya menjadi lebih paham Sebagai seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan harus hati-hati dan benar-benar dipikirkan matang-matang sesuai dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Karena keputusan yang diambil dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-murid. Pengambilan keputusan harus didasari oleh cara pengambilan keputusan yang berpihak pada murid. Masa depan murid-murid kita dapat dipersiapkan dengan baik mulai dari sekarang dengan pengambilan keputusan yang tepat.

Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin? Selain itu diperlukan kompetensi kesadaran diri (self awareness), pengelolaan diri (self management), kesadaran sosial (social awareness) dan keterampilan berhubungan sosial (relationship skills) untuk mengambil keputusan dan proses pengambilan keputusan diharapkan dapat dilakukan secara sadar penuh (mindfulness), sadar dengan berbagai pilihan dan konsekuensi yang ada. Diharapkan keputusan yang diambil setelah melalui proses dan prinsip pengambilan dan pengujian keputusan dapat menguntungkan banyak pihak. Modul ini menjadi panduan dalam pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, bertanggungjawab dan mengandung nilai-nilai kebajikan. Semoga keputusan yang diambil dapat memajukan pendidikan di Indonesia, dan mengarahkan murid menuju masa depan gemilang. 

Penulis: Sumi, M.Pd (CGP Angkatan 7  SMA Negeri 1 Gringsing - Batang)


BATANG – Pengurus dan Anggota MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah siap mendukung pemberlakuan Kurikulum Merdeka di sekolah. Hal ini lantaran kurikulum merdeka menjadi tuntutan global yang melek IT agar mampu bersaing dengan negara maju. Di samping itu sangat cocok diterapkan untuk mengatasi krisis pembelajaran di tengah kondisi pandemi Covid-19.


Hal ini seperti dinyatakan ketua MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah periode 2022-2026, Trisni Atmawati S.Si M.Si saat rakor di Gringsing, Rabu (30/3/2022). Menurutnya, Kurikulum Merdeka ini merupakan upaya pemulihan pembelajaran. Kurikulum ini dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik.


“Perubahan ini seperti kereta. Jangan hanya melihat kereta lewat, tapi ayo ikut naik ke dalam kereta. Adanya Kurikulum Merdeka ini merupakan suatu gerbong perubahan, maka seluruh guru biologi SMA se Jawa Tengah siap berada didalam gerbong kereta Kurikulum Merdeka sehingga bisa ikut menikmati perubahannya, tidak hanya melihat perubahan itu melintas begitu saja,” ujar Guru SMAN 1 Purworejo Jateng ini.


Salah satu peserta rakor yang juga guru Biologi SMAN 1 Gringsing, Sumi, M.Pd mengaku siap menjalankan kurikulum merdeka. Menurutnya, kurikulum ini dapat mengeksplorasi siswa. Lantaran pembelajaran dilakukan berbasis projek untuk pengembangan soft skills dan karakter sesuai profil pelajar Pancasila.


“Kurikulum fokus pada materi esensial sehingga ada waktu cukup untuk pembelajaran yang mendalam bagi kompetensi dasar seperti literasi dan numerasi.

Fleksibilitas bagi guru untuk melakukan pembelajaran yang terdiferensiasi sesuai dengan kemampuan peserta didik dan melakukan penyesuaian dengan konteks dan muatan lokal,” imbuh perempuan yang juga Guru Berprestasi Kabupaten Batang tahun 2007.


Ketua ketua MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah periode 2018-2022, Wachid Mucharom S.Pd. M.Pd., menjelaskan rakor dihadiri oleh Pengurus MGMP Provisi Jateng dan MGMP SMA dari 35 Kabupaten Kota se Jawa Tengah. Dalam rakor ini juga dilaksanakan pemilihan kepengurusan baru MGMP Biologi SMA Provinsi Jawa Tengah periode 2022-2026.


“Kami harap pengurus MGMP tetap optimis dengan masa depan. Ikuti dan nikmati perubahan yang ada. Zaman sekarang mungkin akan berubah, tapi yakinlah bahwa setiap perubahan yang terjadi akan lebih baik dari waktu ke waktu. Yang penting adalah kemampuan adaptif mengikuti perubahan dan perkembangan jaman,” harap lelaki yang juga Kepala SMAN 1 Gringsing ini.


Sebagai penutup kegiatan ini, peserta Rakor MGMP Biologi Jateng menikmati indahnya potensi wisata Batang Pantai Jodo.


Sumber: https://radarpekalongan.co.id/154114/mgmp-biologi-sma-provinsi-jateng-siap-dukung-pemberlakuan-kurikulum-merdeka/


Bapak-Ibu Guru Biologi Hebat SMA Se-Jawa Tengah,
Selamat Menjalankan Ibadah Puasa 1443 H
Mohon Maaf Lahir Batin.

Mau punya twibbon seperti di atas? silahkan klik link di bawah: